Accessibility

  1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Top Navigation

May 2008



Features

Interview

Poul E. Bitsch: “Jakarta itu kota yang indah, namun kurang promosi.”

Poul E Bitsch42 tahun bekerja di bidang perhotelan membuat Poul E. Bitsch paham seluk-beluk bisnis ini, dan tahu akan ke mana arahnya di masa depan. Dan sebagai orang yang sudah 8 tahun tinggal di Jakarta, sekaligus menjadi ketua JIHA (Jakarta International Hotels Association), Poul merasa bahwa kota metropolitan ini tidak kalah dengan ibukota negara-negara lain. Malah, menurutnya banyak hal menarik yang pantas menjadikan Jakarta sebagai kota tujuan wisata. Garuda Magazine mewawancarai Poul untuk lebih mengetahui pemikiran dan ide-idenya.

Dengan pengalaman yang lama di bidang perhotelan, menurut Anda, ke mana arah bisnis ini di masa depan?
Di masa depan, bisnis perhotelan akan makin berkembang, seiring makin banyaknya orang yang kaya dan punya uang untuk bepergian. Di samping, makin banyak pula orang yang traveling dan melihat-lihat bagian dunia lain. Karena itu selalu akan ada kebutuhan untuk bisnis perhotelan.

Menurut saya, bisnis ini secara bertahap akan memisah ke dalam dua kategori. Pertama, kategori hotel bintang 5, 6, 7 dan seterusnya, di mana para orang kaya dan sukses akan pergi ke situ. Jika Anda mengamati, banyak jaringan hotel global yang menetapkan harga kamar yang banyak orang tidak mampu menjangkaunya. Namun mereka masih menikmati bisnis yang bagus, karena jumlah orang kaya makin banyak. Di Cina saja, misalnya, kini ada lebih dari 1 juta miliarder. Kategori kedua adalah hotel bintang 3 dan 4, yang secara bisnis juga bagus karena makin banyaknya turis kelas menengah. Jadi selalu ada pasar untuk kedua kategori ini.

Borobudur sendiri hotel bintang lima dengan Diamond Star, dan kami terus berupaya mempertahankan kualitas ini. Karena itu pula kami mengeluarkan banyak uang untuk renovasi dan pengembangan. Kami juga sudah mempunyai rencana, apa yang akan kami lakukan dalam 3-4 tahun mendatang.

Apa arti Hotel Borobudur bagi Anda?
Bagi saya, Hotel Borobudur merupakan titik fokus, karena 80-90 persen waktu saya dihabiskan di hotel ini, dan saya juga tinggal di sini. Jadi setiap hari saya bekerja bagaimana cara membuat hotel ini berbeda, menghasilkan lebih banyak uang, dan meningkatkan kepuasan para tamu.

Dan saya merasa bangga, karena dalam 8 tahun ini, kami menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.
Setiap tahun Hotel Borobudur meningkat tidak hanya dari segi revenue dan profit, namun juga dari tingkat kepuasan para tamu. Dan itulah yang menjadi tujuan utama kami. Tamu yang puaslah yang kembali ke sini, dan juga merekomendasi teman mereka untuk datang. Dan ini adalah iklan terbaik di dunia. Kalau saya hanya memasang iklan di majalah atau koran dan mengatakan 'hotel kami adalah yang terbaik' itu sudah kuno. Tak ada orang yang percaya lagi.

Namun word of mouth, para tamu yang menulis ucapan terima kasih, merekomendasikan ke teman bahwa hotel ini bagus, itu yang membuat kami tetap ada di bisnis ini. Itu sebabnya kami harus memperlakukan mereka dengan baik.

Apa tantangan terbesar mengelola hotel ini?
Kami mengalami turun naik yang tajam selama 8 tahun saya di sini. Misalnya terjadi Bali Bombing, serta beberapa kali terjadi banjir besar, terutama di tahun 2002. Kalau berpikirnya jangka pendek, saya pasti sudah bilang, lebih baik berhenti saja. Tapi saya kan kepala tim. Kalau kepala timnya menyerah, bagaimana perasaan para anggota? Kami punya 900 staf tetap di sini.

Jadi saya bertahan, karena saya percaya, besok matahari pasti akan bersinar cerah kembali. Saya bisa saja mengalami hari yang sangat buruk dan pulang kerja dengan perasaan sedih, namun dalam hati saya yakin, besok pasti keadaan akan membaik kembali. Dan itu kemudian terbukti.

Apa untung-ruginya mengelola hotel di Jakarta?
Keuntungannya, masih ada potensi untuk masa-masa mendatang. Jakarta tidak seperti Singapura, di mana yang bisa dilakukan hotel di sana hanya meningkatkan rate kamar. Kalau Anda ke Singapura, Anda hanya akan nampak sebagai bagian dari deretan angka. Sebab kalau Anda tidak jadi menginap, ada orang lain yang datang dan mengisi kamar Anda. Mereka melakukan bisnis hotel secara taken for granted.

Sedangkan di Jakarta, jalan menuju ke sana masih panjang. Tingkat hunian hotel masih bisa meningkat, harga kamar juga belum mahal. Jadi ada potensi yang besar untuk terus meningkatkan diri. Kami belum berada di puncak di mana kami bertanya, "Apa lagi yang bisa kita lakukan?"

Kerugiannya, Jakarta belum dikenal sebagai kota tujuan wisata. Dari cara Jakarta dipromosikan, jelas arahnya belum ke situ. Itu yang menjadi perhatian utama kami di JIHA: bagaimana cara meyakinkan orang tentang kekayaan wisata Jakarta.

Turisme adalah bisnis, yang mempunyai return on investment. Kalau Dinas Pariwisata mau mengeluarkan dana promosi lebih banyak, mereka akan mendapat pengembalian lebih banyak pula dalam bentuk uang, turis, dan lapangan pekerjaan. Jadi bukan mengeluarkan uang namun tidak memperoleh apa-apa.

Kalau setiap turis membelanjakan 200 dolar per hari di Jakarta, seratusan turis saja per hari bisa berarti pemasukan jutaan dolar per tahun. Lihat saja pajak restoran sebesar 10%. Kalau jumlah tamu meningkat dan hotel-hotel di Jakarta memperoleh 10 juta dolar lebih banyak dalam satu bulan, pemerintah akan memperoleh 1 juta dolar.

Pendapatan dari turisme tak hanya bermanfaat bagi hotel dan pemerintah, tapi juga bagi spa, padang golf, pemilik toko, supir taksi, bAndara, agen perjalanan, dan sebagainya. Banyak sekali pemasukan tidak langsung dari turisme. Ini yang selalu saya katakan. Menurut saya, Jakarta adalah kota yang indah. Hanya saja, semua pihak perlu duduk bersama dan berdiskusi, apa yang perlu kita lakukan untuk mempromosikannya.

Yang sederhana saja. Kalau kita ke Bangkok atau Hong Kong, di setiap hotel kita bisa memperoleh peta skytrain atau subway dengan mudah dan bisa dipahami secara cepat.

Mengapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama di sini? Saya sering membawa tamu berkeliling, misalnya ke Taman Mini atau Ancol, dan mereka bilang, "Wah, ini bagus sekali. Saya bisa pergi bersama anak-anak, dan menghabiskan waktu seharian di sini." Kita juga bisa membawa para turis ke Museum Nasional. Memang ini bukan museum paling bagus sedunia, namun ini adalah museum tentang Indonesia, dan banyak turis yang ingin tahu tentang negara yang mereka kunjungi. Mengapa tidak kita promosikan?

Dibanding ibukota negara lain, Jakarta lebih punya banyak problem, seperti banjir dan kemacetan yang parah. Bagaimana menurut Anda?
Setiap ibukota punya masalahnya sendiri-sendiri, dan Jakarta tidak menduduki posisi 'spesial' dalam hal ini. Terakhir kali saya ke Hong Kong, saya stuck di hotel selama 24 jam karena ada taifun. Semua restoran tutup, subway tutup, tidak ada bus, tidak ada apapun yang berjalan.
Dibandingkan banjir di Manila, banjir di Jakarta tidak ada apa-apanya. Bangkok mengalami banjir, dan juga revolusi. Militer mengambil alih kekuasaan dan tank-tank memblokir jalan-jalan.

Di Cina, bandara Shanghai dan Guangdong ditutup karena badai. Mungkin Singapura kurang mengalami masalah bencana, namun mereka juga punya masalah seperti wabah dengue fever baru-baru ini. Ya, memang ada banjir di Jakarta, namun saya yakin pemerintah tengah mencari cara untuk mengatasinya.

Ceritakan tentang keluarga Anda.
Saya punya satu anak perempuan, Nicole, berusia hampir 6 tahun. Dia anak perempuan paling cantik sedunia. Istri saya orang Cina, dan saya sendiri orang Denmark.

Anda punya hobi yang unik?
Tidak punya. Hobi saya adalah pekerjaan saya, hahaha!
Saya suka bermain saham di pasar modal, memang. Tapi saya tidak bermain di jam kerja, melainkan setelah jam 9.30 malam karena saya bermain di New York Stock Exchange. Namun itu sekadar untuk mencari kesenangan saja, dan saya sudah cukup puas kalau bisa mendapat gain 200 atau 400 dolar.

Namun hobi pertama saya ya, bermain bersama putri saya. Nomor dua bermain tenis untuk olahraga, lalu berenang, jogging, dan mendengarkan musik.

  • Page
  • 1
  • Other articles

  • Read article from