Accessibility

  1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Top Navigation

March 2009



Features

Interview

“Aku Merasa Bagian dari Laut!”

nadine chandrawinata

Mendapat kepercayaan menjadi Duta Ekowisata Taman Nasional Wakatobi – gugusan empat pulau besar (Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko) di Sulawesi Tenggara yang masuk dalam pusat segitiga terumbu karang dunia (The Coral Triangle Center) – membuat Puteri Indonesia 2005 ini semakin fokus untuk berbuat sesuatu yang berarti bagi alam, khususnya laut.

Salah satu dari 'tugas baru' Nadine Chandrawinata adalah mengajak masyarakat Indonesia menyadari akan potensi kelautannya sendiri.

Ditemui di lokasi pemotretan di bilangan Jakarta Selatan, wanita berparas Indonesia-Jerman ini begitu bersemangat menceritakan apa yang menjadi panggilan hatinya. Mata indahnya terus berbinar mewarnai perbincangan santai kami. Tutur katanya membius seakan mengajak menyelami laut Indonesia yang cantik, serupa dengan wajahnya. Kalau begini, siapa yang tidak tergoda untuk turut menjaga laut kita?

Sepertinya semakin enjoy dengan laut, kenapa sih suka dengan laut?
Sangat. Aku benar-benar menyukai laut dari kecil. Aku ingat setiap Minggu orang tua selalu bawa aku ke laut atau pantai. Kalau sedang patah hati atau jatuh cinta aku pergi ke laut. Dan ide-ide baru juga aku dapat dari laut. Dari situ aku cinta dengan laut. Dan aku berterima kasih akan laut dan aku harus menciptakan sesuatu, yaitu menjaganya. Tapi aku tidak bisa sendiri, aku butuh pendukung, yaitu manusia, karena manusia adalah perusak terbesar namun juga yang dapat merubah semua itu menjadi lebih baik lagi.

Kapan belajar diving?
Tiga tahun yang lalu aku belajar di Bunaken, dan sekarang sudah sampai tingkat empat, Rescue Diver bersertifikat PADI. Satu tingkat lagi aku bisa jadi instruktur.

Sudah diving ke mana saja di Indonesia selain Wakatobi?
Jayapura, Pulau Weh, Soroako, Derawan, Tulamben, Pulau Bangka dan Bunaken. Aku ingin sekali ke Maluku dan Raja Ampat. Dan juga aku mau ke Padang, katanya pantainya bagus.

Secara umum, bagaimana pendapat Nadine sendiri setelah melihat kelautan Indonesia?
Memang ada beberapa daerah yang sudah cukup parah kerusakannya, tapi ada juga tempat-tempat baru yang sangat indah. Yang bisa aku lakukan sekarang ini membantu adanya perubahan. Aku harus lihat sendiri dan kasih tindakan langsung di depan masyarakat. Dan sebenarnya titel Puteri Indonesia itu sangat membantu sebagai batu loncatan untuk mempermudah aku mengajak masyarakat. Itu 'kan bagus sekali.
Selebihnya, memang harus ada semangat perubahan dan harus terjun langsung. Saya ingin masyarakat Indonesia menyadari bahwa kita negara kepulauan karena dua-pertiganya adalah laut dan banyak spot-spot yang bagus. Hanya saja kita tidak tahu bagaimana mempergunakan dan menjaganya.

Apa saja sih program kerja Duta Ekowisata Taman Nasional Wakatobi?
Bupati Wakatobi, Hugua, telah memberikan kepercayaan kepada saya tahun lalu. Intinya aku fokus ke laut, bagaimana berpromosi untuk mendatangkan wisatawan. Dan saya harus terus melihat ada apa saja di Wakatobi, dan apa yang bisa diangkat dan diperbaiki.
Kemudian, tugas khususnya adalah, selain mempromosikan Wakatobi, lebih banyak memberikan penyuluhan kepada masyarakat pesisir dan anak-anak, menyadarkan mereka agar peka karena mereka yang dekat dengan laut dan karena itu harus peduli.

Bagaimana membuat mereka memahami itu?
Ketika pertama kali datang ke Wakatobi, aku melihat banyak sampah di laut dan lingkungan. Lalu aku kampanye keliling pulau itu agar buang sampah pada tempatnya. Susahnya, daerah itu tidak memiliki tempat sampah. Di jalan-jalan tidak ada.

Tapi karena aku memberikan penyuluhan kepada mereka, khususnya anak-anak SD dan SMP, dan aku langsung mempraktekan bagaimana membuang sampah yang benar dan menegur ketua RT-nya, akhirnya mereka mengerti. Ketika aku kembali ke Wakatobi lagi, sudah terlihat perubahannya. Sekarang sudah banyak tempat sampah dan semakin bersih. Jadi, ada perubahan tingkah laku.

Lalu, program konservasi lainnya?
Banyak, salah satu yang harus aku lakukan yaitu melihat, termasuk terumbu karang, sebatas apa tingkat kerusakannya. Kemudian, aku juga harus lihat apa yang sudah dilakukan masyarakat pesisirnya, ada kepedulian atau tidak. Dan juga melihat pendatangnya, apakah mereka divers atau hanya ingin mengambil terumbu karang. Yang jelas aku lebih banyak memberikan penyuluhan dan semua itu berhubungan.

Apa Nadine juga membuat program sendiri?
Untuk saat ini aku masih ikut dengan teman sesama divers. Beberapa waktu lalu ada program bersih-bersih pantai di Bali dan Wakatobi.

Sejauh mana Nadine dapat memanfaatkan tugas itu?
Sebatas aku masih bisa diving dan melihat keindahan itu, aku akan terus membarenginya dengan penyuluhan. Dan itu tidak saja sebagai Duta Ekowisata Wakatobi tetapi juga sebagai manusia yang terpanggil hatinya untuk berbagi menjaga laut. Aku senang dan aku menjalani hal yang aku senangi agar tidak terbebani.

Kenapa lebih tertarik dengan lingkungan dan anak-anak?
Di lingkungan aku bisa langsung melihat dan belajar dari kehidupan. Seperti sekarang, aku sudah merasa bagian dari laut dan aku respek terhadapnya karena alam sudah bantu aku dalam kehidupan dan pekerjaan. Filosofinya, aku tidak membuang sampah sembarangan, pekerjaan akan lancar.

Aku juga belajar dari kepolosan anak-anak. Mereka senang, mereka senyum. Mereka begitu mudah bilang maaf atau berterima kasih, sedangkan kita semakin tua semakin banyak berpikir untuk bilang itu. Aku juga lagi fokus untuk membuat sekolah untuk anak-anak dan buku bergambar.

Sekolah apa?
Sekolah kreatifitas, non-formal di Jakarta. Aku ingin anak-anak lebih terbuka akan kreatifitas karena selama ini mereka sudah ditutup oleh teknologi seperti internet dan Playstation. Jadi interaksi mereka terhadap alam berkurang.

Sebenarnya targetnya apa, sih?
Kepuasan batin saja, dan untuk perbaikan lingkungan.

  • Page
  • 1
  • Other articles

  • Read article from