Mendapat kepercayaan menjadi Duta Ekowisata Taman Nasional Wakatobi – gugusan empat pulau besar (Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko) di Sulawesi Tenggara yang masuk dalam pusat segitiga terumbu karang dunia (The Coral Triangle Center) – membuat Puteri Indonesia 2005 ini semakin fokus untuk berbuat sesuatu yang berarti bagi alam, khususnya laut.
Salah satu dari 'tugas baru' Nadine Chandrawinata adalah mengajak masyarakat Indonesia menyadari akan potensi kelautannya sendiri.
Ditemui di lokasi pemotretan di bilangan Jakarta Selatan, wanita berparas Indonesia-Jerman ini begitu bersemangat menceritakan apa yang menjadi panggilan hatinya. Mata indahnya terus berbinar mewarnai perbincangan santai kami. Tutur katanya membius seakan mengajak menyelami laut Indonesia yang cantik, serupa dengan wajahnya. Kalau begini, siapa yang tidak tergoda untuk turut menjaga laut kita?
Sepertinya semakin enjoy dengan laut, kenapa sih suka dengan laut?
Sangat. Aku benar-benar menyukai laut dari kecil. Aku ingat setiap
Minggu orang tua selalu bawa aku ke laut atau pantai. Kalau sedang
patah hati atau jatuh cinta aku pergi ke laut. Dan ide-ide baru juga
aku dapat dari laut. Dari situ aku cinta dengan laut. Dan aku berterima
kasih akan laut dan aku harus menciptakan sesuatu, yaitu menjaganya.
Tapi aku tidak bisa sendiri, aku butuh pendukung, yaitu manusia,
karena manusia adalah perusak terbesar namun juga yang dapat merubah
semua itu menjadi lebih baik lagi.
Kapan belajar diving?
Tiga tahun yang lalu aku belajar di Bunaken, dan sekarang sudah sampai
tingkat empat, Rescue Diver bersertifikat PADI. Satu tingkat lagi
aku bisa jadi instruktur.
Sudah diving ke mana saja di Indonesia selain Wakatobi?
Jayapura, Pulau Weh, Soroako, Derawan, Tulamben, Pulau Bangka dan Bunaken.
Aku ingin sekali ke Maluku dan Raja Ampat. Dan juga aku mau ke Padang,
katanya pantainya bagus.
Secara umum, bagaimana pendapat Nadine sendiri setelah melihat kelautan
Indonesia?
Memang ada beberapa daerah yang sudah cukup parah kerusakannya, tapi
ada juga tempat-tempat baru yang sangat indah. Yang bisa aku lakukan
sekarang ini membantu adanya perubahan. Aku harus lihat sendiri dan
kasih tindakan langsung di depan masyarakat. Dan sebenarnya titel Puteri
Indonesia itu sangat membantu sebagai batu loncatan untuk mempermudah
aku mengajak masyarakat. Itu 'kan bagus sekali.
Selebihnya, memang harus ada semangat perubahan dan harus terjun langsung.
Saya ingin masyarakat Indonesia menyadari bahwa kita negara kepulauan
karena dua-pertiganya adalah laut dan banyak spot-spot yang bagus.
Hanya saja kita tidak tahu bagaimana mempergunakan dan menjaganya.
Apa saja sih program kerja Duta Ekowisata Taman Nasional Wakatobi?
Bupati Wakatobi, Hugua, telah memberikan kepercayaan kepada saya tahun
lalu. Intinya aku fokus ke laut, bagaimana berpromosi untuk mendatangkan
wisatawan. Dan saya harus terus melihat ada apa saja di Wakatobi,
dan apa yang bisa diangkat dan diperbaiki.
Kemudian, tugas khususnya adalah, selain mempromosikan Wakatobi, lebih
banyak memberikan penyuluhan kepada masyarakat pesisir dan anak-anak,
menyadarkan mereka agar peka karena mereka yang dekat dengan laut dan
karena itu harus peduli.
Bagaimana membuat mereka memahami itu?
Ketika pertama kali datang ke Wakatobi, aku melihat banyak sampah di
laut dan lingkungan. Lalu aku kampanye keliling pulau itu agar buang
sampah pada tempatnya. Susahnya, daerah itu tidak memiliki tempat
sampah. Di jalan-jalan tidak ada.
Tapi karena aku memberikan penyuluhan kepada mereka, khususnya anak-anak
SD dan SMP, dan aku langsung mempraktekan bagaimana membuang sampah
yang benar dan menegur ketua RT-nya, akhirnya mereka mengerti. Ketika
aku kembali ke Wakatobi lagi, sudah terlihat perubahannya. Sekarang
sudah banyak tempat sampah dan semakin bersih. Jadi, ada perubahan
tingkah laku.
Lalu, program konservasi lainnya?
Banyak, salah satu yang harus aku lakukan yaitu melihat, termasuk terumbu
karang, sebatas apa tingkat kerusakannya. Kemudian, aku juga harus
lihat apa yang sudah dilakukan masyarakat pesisirnya, ada kepedulian
atau tidak. Dan juga melihat pendatangnya, apakah mereka divers atau
hanya ingin mengambil terumbu karang. Yang jelas aku lebih banyak memberikan
penyuluhan dan semua itu berhubungan.
Apa Nadine juga membuat program sendiri?
Untuk saat ini aku masih ikut dengan teman sesama divers. Beberapa
waktu lalu ada program bersih-bersih pantai di Bali dan Wakatobi.
Sejauh mana Nadine dapat memanfaatkan tugas itu?
Sebatas aku masih bisa diving dan melihat keindahan itu, aku akan terus
membarenginya dengan penyuluhan. Dan itu tidak saja sebagai Duta
Ekowisata Wakatobi tetapi juga sebagai manusia yang terpanggil hatinya
untuk berbagi menjaga laut. Aku senang dan aku menjalani hal yang
aku senangi agar tidak terbebani.
Kenapa lebih tertarik dengan lingkungan dan anak-anak?
Di lingkungan aku bisa langsung melihat dan belajar dari kehidupan.
Seperti sekarang, aku sudah merasa bagian dari laut dan aku respek
terhadapnya karena alam sudah bantu aku dalam kehidupan dan pekerjaan.
Filosofinya, aku tidak membuang sampah sembarangan, pekerjaan akan
lancar.
Aku juga belajar dari kepolosan anak-anak. Mereka senang, mereka senyum. Mereka begitu mudah bilang maaf atau berterima kasih, sedangkan kita semakin tua semakin banyak berpikir untuk bilang itu. Aku juga lagi fokus untuk membuat sekolah untuk anak-anak dan buku bergambar.
Sekolah apa?
Sekolah kreatifitas, non-formal di Jakarta. Aku ingin anak-anak lebih
terbuka akan kreatifitas karena selama ini mereka sudah ditutup oleh
teknologi seperti internet dan Playstation. Jadi interaksi mereka
terhadap alam berkurang.
Sebenarnya targetnya apa, sih?
Kepuasan batin saja, dan untuk perbaikan lingkungan.