Baru pertama kali diadakan, karnaval ini mendapat sambutan luar biasa. Jadwal untuk tahun depan pun ditetapkan.
"Kapan tho, mulaine?" (Kapan
sih, mulainya?).
Suryo, yang sudah hampir dua jam berjongkok di sisi utara Jalan Slamet Riyadi, bertanya kepada sang ibu. Mereka sengaja datang dari sisi utara kota untuk menyaksikan Solo Batik Carnival (SBC), yang menurut rencana dibuka jam 2 siang. Begitu mendekati jam 3 dan kereta-kereta kuda di depannya tak juga bergerak, anak berusia 8 tahun ini pun mulai gelisah.
Namun keluhannya tak berlangsung lama. Di panggung utama di samping kompleks apartemen dan pusat perbelanjaan Solo Center Point, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengibarkan gunungan, dan SBC pun dibuka. Bunyi sirine tiga mobil kebakaran yang menjadi pembuka jalan meraung, dan kedua sisi jalan utama yang akan menjadi catwalk itu pun kembali disesaki masyarakat.
Musik gamelan yang rancak dimainkan, pasukan berkuda pun mulai bergerak. Diikuti kemudian oleh delapan kereta kuda –empat kereta didatangkan dari Kraton Yogyakarta– yang berisi Menteri Perdagangan, Duta Besar Spanyol untuk Indonesia Aurora Bernaldez, para pejabat pemerintahan kota Solo, dan duta Solo Heritage Titi Kamal. Di belakangnya mengikuti pasukan pengibar bendera, pasukan tombak dan pasukan senjata api dari Kraton Surakarta, lalu prajurit pariwisata dan jagatirta.
Peserta inti karnaval batik kemudian muncul, diawali kelompok Jember Fashion Carnival berjumlah 52 orang yang dipimpin oleh presiden JFC Dynand Fariz, disusul para peserta dari Solo sendiri yang berjumlah 247 orang dan terdiri dari banyak elemen masyarakat: mahasiswa, pelajar, dosen, seniman, ibu rumah tangga, hingga anak-anak.
Mereka menampilkan berbagai kreativitas busana berbahan dasar batik hasil kreasi mereka sendiri, lengkap dengan aksesorisnya. Bahan yang digunakan tak hanya kain, namun juga terpal, jaring, kertas karton, keping CD, gelas plastik, balon tiup, hingga bulu ayam. Dengan iringan musik, para model dadakan yang mengenakan kostum bertema wayang dan berwarna hitam, merah, hijau, dan putih ini menari dan melakukan berbagai gerakan atraktif sepanjang rute sejauh 4,2 km, menuju Balaikota Solo. Tak heran, sepanjang jalan mereka disambut sangat meriah oleh ribuan masyarakat yang menonton.
SBC, yang digelar 13 April lalu, merupakan upaya bersama antara Solo Center Point dengan pemerintah kota Solo untuk mengenalkan kembali batik kepada masyarakat, mengangkat citra Solo sebagi kota batik, serta meningkatkan arus wisatawan ke Solo.
Malam sebelumnya, diadakan Royal Dinner di Pura Mangkunegaran. Ratusan tamu undangan disuguhi pergelaran fashion para peserta karnaval ini sebagai ‘pemanasan’. Pagi harinya digelar Srawung Batik yang menampilkan batik, kerajinan tangan dan kekayaan kuliner Solo. Pameran ini diikuti 70 stand, mengambil lokasi dari dekat Dalem Wuryaningratan hingga Solo Center Point.
Melihat antusiasme warga dan dampak positifnya terhadap pariwisata, pemerintah kota Solo pun sudah menetapkan jadwal untuk SBC tahun depan, 12 April 2009.