Accessibility

  1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Top Navigation

March 2007



Departments

Seni dan Budaya

Melestarikan Songket

"Kain songket adalah produk adat. Orang beradat pasti beragama tetapi orang beragama belum tentu beradat. Melalui kain songket yang merupakan produk adat, ada nilai-nilai dan pesan-pesan yang ingin disampaikan." – Sativa Sutan Aswar Arryman

Teks oleh Sari Widiati - Foto-foto oleh Luki

kain songketSuku Minangkabau di Sumatera Barat identik dengan kebudayaan. Kain songket, misalnya, merupakan salah satu produk adat dan kebudayaan yang lahir dari luhak nan tigo atau 'tiga wilayah kebudayaan', yakni Tanah Datar (Luhak Nan Tuo), Agam, dan Lima Puluh Koto. Disebut sebagai produk adat dan kebudayaan karena songket dipakai untuk upacara-upacara tradisional seperti 'batagak penghulu' (pemberian gelar datuk untuk kepala klan adat), perkawinan, kematian, sunatan, memandikan bayi baru lahir, dan sebagainya. Kain songket yang dipakai juga berbeda-beda sesuai dengan jenis upacara adat serta daerah masing-masing. Selain berperan sebagai pakaian adat, kain songket juga berperan sebagai media pendidikan. Motif-motif atau ragam hias pada helainya adalah way of life atau falsafah hidup orang Minangkabau, yang menceritakan ajaran-ajaran mengenai kehidupan dan perilaku dalam berkeluarga dan bermasyarakat.

Ragam hiasan songket juga banyak mengambil dari alam. Bentuk batang pinang yang menjulang tinggi dan lurus dengan buah yang jatuh ke tanah, misalnya, merupakan metafor dari seorang ibu yang baik dan selalu dekat dan memberikan perhatian yang besar kepada anak-anak maupun sanak keluarga. Ada pula hiasan rantai atau disebut barantai bugih yang berbentuk pengulangan motif dalam garis diagonal yang menggambarkan keterlibatan suatu komunitas yang saling terkait seperti rantai sehingga merefleksikan karakter sebuah masyarakat berbudaya. Masih banyak lagi ragam hias yang mengisyaratkan pesan-pesan hidup dan moral.

kain songketLima Fungsi
Fungsi kain songket tergantung kebiasaan masing-masing nagari — semacam pemerintahan otonom yang merupakan gabungan dari beberapa desa di Minangkabau — meski memiliki wujud yang tidak jauh berbeda.

Dilihat dari jenisnya, kain songket memiliki lima fungsi. Pertama, fungsi jender, yakni disesuaikan dengan jenis kelamin. Kedua, fungsi daur hidup, yakni songket menjadi kebutuhan esensial dan memiliki ajaran-ajaran adat isitadat sekaligus menggambarkan perjalanan hidup manusia. Ketiga, fungsi religi, yakni songket dipakai untuk keperluan keagamaan. Keempat, fungsi ragam hias yang merupakan wujud penuturan gagasan dalam bentuk simbolik yang mensyaratkan filosofi adat, dan kelima, fungsi pusaka, yakni bahwa songket merupakan warisan turun-temurun berdasarkan garis ibu.

Terancam Punah
Keindahan kain songket minangkabau yang dipancarkan melalui tautan warna-warni benang dan ragam hiasnya, menjadikan pemakainya tampak eksotis, anggun dan mencirikan asal daerah si pemakai. Namun, membicarakan kain songket minangkabau saat ini bukan lagi memperbicangkan keindahan atau sekadar mengaguminya. Sudah saatnya aset budaya nasional ini dipertahankan, karena akarnya yang telah goyah.

Itu pula yang sedang dilakukan Sativa Sutan Aswar Arryman atau biasa disapa Atitje. Sejak 1975 ia telah melakukan riset sosial budaya dan tahun 1998 mulai memberikan pengajaran kepada para perajin kain songket.

Banyak alasan mengapa Atitje merasa sangat perlu mengembangkan songket minangkabau. Yang paling utama, karena ia terlahir dari keturunan asal Sumatera Barat, dan berlatar belakang pendidikan sejarah dan kebudayaan. Ia juga melihat kondisi masyarakat sekarang yang sudah tidak lagi memikirkan adat. Menurutnya, semua akar budaya Indonesia sudah tidak kuat lagi, termasuk kain songket. Akibatnya, banyak produk adat yang 'terjual'. "Bagaimana anak-cucu kita dapat tahu produk adat kita kalau tidak ada barangnya?" Atitje menegaskan.
Atitje menyimpulkan bahwa budaya adalah adat. Adat adalah perilaku agama.

Atitje"Bagaimana attitude kamu, itulah agamamu," tandasnya. Itu pula yang menjadi titik tolak mengapa ia merasa perlu merevitalisasi songket minangkabau. Tidak hanya mengumpulkan perajin, lalu memproduksinya. Ia juga mengajarkan adat dan budaya Minang dan makna-makna dalam ragam hias songket itu sendiri, karena percuma saja jika tidak menanamkan nilai-nilai budaya tersebut.

Kendala yang dihadapi Atitje untuk melestarikan songket minangkabau tak kalah besar dengan tekadnya. Di Minangkabau sendiri, menurutnya, banyak perajin yang tidak mau menurunkan ilmunya kalau tidak ke keturunan sendiri. Sementara, keturunannya sudah tidak tertarik mengembangkan warisan budaya tersebut karena lebih memilih bekerja di pabrik atau merantau ke kota. Begitu pula dengan pemasaran songket, yang dinilainya sangat lemah. Menurut Atitje, masyarakat Indonesia sendiri sangat jarang memakai pakaian daerahnya. "Padahal dengan memakai pakaian daerah masing-masing, sudah otomatis memasarkan produk adat kita sendiri."

Atitje berharap, apa yang ia lakukan secara bertahap itu bisa membuat kain songket minangkabau dan perajinnya dapat tetap berkembang, sehingga kelak anak-cucu kita dapat melihat produk adat dan budayanya sendiri.

  • Page
  • 1
  • Other articles

  • Read article from