"Kain songket adalah produk adat. Orang beradat pasti beragama tetapi orang beragama belum tentu beradat. Melalui kain songket yang merupakan produk adat, ada nilai-nilai dan pesan-pesan yang ingin disampaikan." – Sativa Sutan Aswar Arryman
Teks oleh Sari Widiati - Foto-foto oleh Luki
Suku
Minangkabau di Sumatera Barat identik dengan kebudayaan. Kain songket,
misalnya, merupakan salah satu produk adat dan kebudayaan yang lahir
dari luhak nan tigo atau 'tiga wilayah kebudayaan', yakni Tanah Datar
(Luhak Nan Tuo), Agam, dan Lima Puluh Koto.
Disebut sebagai produk adat dan kebudayaan karena songket dipakai
untuk upacara-upacara tradisional seperti 'batagak penghulu' (pemberian
gelar datuk untuk kepala klan adat), perkawinan, kematian, sunatan,
memandikan bayi baru lahir, dan sebagainya. Kain songket yang dipakai
juga berbeda-beda sesuai dengan jenis upacara adat serta daerah masing-masing.
Selain berperan sebagai pakaian adat, kain songket juga berperan
sebagai media pendidikan. Motif-motif atau ragam hias pada helainya
adalah way of life atau falsafah hidup orang Minangkabau, yang menceritakan
ajaran-ajaran mengenai kehidupan dan perilaku dalam berkeluarga dan
bermasyarakat.
Ragam hiasan songket juga banyak mengambil dari alam. Bentuk batang pinang yang menjulang tinggi dan lurus dengan buah yang jatuh ke tanah, misalnya, merupakan metafor dari seorang ibu yang baik dan selalu dekat dan memberikan perhatian yang besar kepada anak-anak maupun sanak keluarga. Ada pula hiasan rantai atau disebut barantai bugih yang berbentuk pengulangan motif dalam garis diagonal yang menggambarkan keterlibatan suatu komunitas yang saling terkait seperti rantai sehingga merefleksikan karakter sebuah masyarakat berbudaya. Masih banyak lagi ragam hias yang mengisyaratkan pesan-pesan hidup dan moral.
Lima
Fungsi
Fungsi kain songket tergantung kebiasaan masing-masing nagari — semacam
pemerintahan otonom yang merupakan gabungan dari beberapa desa di
Minangkabau — meski memiliki wujud yang tidak jauh berbeda.
Dilihat dari jenisnya, kain songket memiliki lima fungsi. Pertama, fungsi jender, yakni disesuaikan dengan jenis kelamin. Kedua, fungsi daur hidup, yakni songket menjadi kebutuhan esensial dan memiliki ajaran-ajaran adat isitadat sekaligus menggambarkan perjalanan hidup manusia. Ketiga, fungsi religi, yakni songket dipakai untuk keperluan keagamaan. Keempat, fungsi ragam hias yang merupakan wujud penuturan gagasan dalam bentuk simbolik yang mensyaratkan filosofi adat, dan kelima, fungsi pusaka, yakni bahwa songket merupakan warisan turun-temurun berdasarkan garis ibu.
Terancam Punah
Keindahan kain songket minangkabau yang dipancarkan melalui tautan
warna-warni benang dan ragam hiasnya, menjadikan pemakainya tampak
eksotis, anggun dan mencirikan asal daerah si pemakai. Namun, membicarakan
kain songket minangkabau saat ini bukan lagi memperbicangkan keindahan
atau sekadar mengaguminya. Sudah saatnya aset budaya nasional ini
dipertahankan, karena akarnya yang telah goyah.
Itu pula yang sedang dilakukan Sativa Sutan Aswar Arryman atau biasa disapa Atitje. Sejak 1975 ia telah melakukan riset sosial budaya dan tahun 1998 mulai memberikan pengajaran kepada para perajin kain songket.
Banyak alasan mengapa Atitje merasa sangat perlu mengembangkan
songket minangkabau. Yang paling utama, karena ia terlahir dari keturunan
asal Sumatera Barat, dan berlatar belakang pendidikan sejarah dan
kebudayaan. Ia juga melihat kondisi masyarakat sekarang yang sudah
tidak lagi memikirkan adat. Menurutnya, semua akar budaya Indonesia
sudah tidak kuat lagi, termasuk kain songket. Akibatnya, banyak produk
adat yang 'terjual'. "Bagaimana anak-cucu kita dapat tahu produk
adat kita kalau tidak ada barangnya?" Atitje menegaskan.
Atitje menyimpulkan bahwa budaya adalah adat. Adat adalah perilaku
agama.
"Bagaimana
attitude kamu, itulah agamamu," tandasnya. Itu pula yang menjadi
titik tolak mengapa ia merasa perlu merevitalisasi songket minangkabau.
Tidak hanya mengumpulkan perajin, lalu memproduksinya. Ia juga mengajarkan
adat dan budaya Minang dan makna-makna dalam ragam hias songket itu
sendiri, karena percuma saja jika tidak menanamkan nilai-nilai budaya
tersebut.
Kendala yang dihadapi Atitje untuk melestarikan songket minangkabau tak kalah besar dengan tekadnya. Di Minangkabau sendiri, menurutnya, banyak perajin yang tidak mau menurunkan ilmunya kalau tidak ke keturunan sendiri. Sementara, keturunannya sudah tidak tertarik mengembangkan warisan budaya tersebut karena lebih memilih bekerja di pabrik atau merantau ke kota. Begitu pula dengan pemasaran songket, yang dinilainya sangat lemah. Menurut Atitje, masyarakat Indonesia sendiri sangat jarang memakai pakaian daerahnya. "Padahal dengan memakai pakaian daerah masing-masing, sudah otomatis memasarkan produk adat kita sendiri."
Atitje berharap, apa yang ia lakukan secara bertahap itu bisa membuat kain songket minangkabau dan perajinnya dapat tetap berkembang, sehingga kelak anak-cucu kita dapat melihat produk adat dan budayanya sendiri.