Ia berlatar belakang teknik namun tidak anti ekonomi; ia kemudian mendalami disiplin ekonomi tapi ini bukan berarti ia asosial. Itulah Sang Komunikator Wimar Witoelar.
Bagi seorang WW (panggilan akrabnya), pria murah senyum ini menganggap pekerjaan sebagai seorang komunikator adalah hobi.
“Apa sih batas hobi dan pekerjaan?” tanyanya.
Sebelum saya sempat menjawab, pertanyaan tersebut dijawabnya sendiri, ”Kalau batasnya enjoyment, ya, itu hobi. Tapi kalau dibilang batasnya adalah penghasilan, ya, bisa juga, karena pendapatan saya sekarang juga dari bidang ini.”
“Jadi karena saya sebagai pribadi sekarang independen dan tidak terikat pada siapa-siapa, batasan antara hobi dan pekerjaan sudah tidak ada.”
Pria yang mematahkan mitos bahwa kegemukan identik dengan tidak sehat—ia yakin kadar kolesterol, gula darah, asam urat, trigliserida dalam tubuhnya berada dalam batas normal ini—lahir di Padalarang, Jawa Barat, 14 Juli 1945 dengan nama Wimar Jartika Witoelar Kartadipoetra. Dalam biografinya yang ditulis oleh Fira Basuki, “Hell, Yeah”, ditulis bahwa kebersamaan adalah hal yang selalu diusahakan dalam keluarga Witoelar. Sarapan dan makan malam mereka lewati sambil diskusi segala hal.
Selain itu, kebiasaan keluarga yang tidak pernah dihilangkan adalah tamasya bersama, baik di akhir pekan atau liburan sekolah. Mantan dosen ITB (Institut Teknologi Bandung) ini bahkan masih mengenang perjalanan pertamanya ke luar negeri bersama keluarga. Saat itu Desember 1953, perjalanan ke Negeri Belanda dilakukan dengan kapal laut SS Oranje yang mampir di Belawan, Colombo, Terusan Suez, Napoli, Southampton sebelum akhirnya berlabuh di Amsterdam.
Jalan-jalan atau traveling sekeluarga secara rutin adalah tradisi yang ditanamkan oleh orangtuanya.
“Mereka selalu melakukan hal tersebut, karena itu kami tidak punya uang banyak, semua dihabisin untuk traveling. Tapi, itu ternyata menjadi best investment. Orang tua saya berpikir, penting bagi kami membuka mata kepada dunia,” kenangnya.
Ya, ternyata traveling telah menjadi bagian hidup pria berambut kribo ini. Baginya, hal tersebut bukan menghamburkan uang, melainkan investasi pendidikan baginya dan anak-anaknya kelak.
Komunikator
Meskipun ia seorang insinyur teknik elektro dan bergelar MBA dalam bidang finance, panggilan jiwa urang Bandung ini ternyata di bidang komunikasi. Paling tidak kata itu yang terucap darinya saat pertanyaan pertama saya lontarkan dalam wawancara kami beberapa waktu lalu:
Bagaimana Anda mendeskripsikan diri Anda?
“Komunikator,” jawabnya.
Selain memiliki dan mengelola perusahaan PR (public relations) InterMatrix, pria yang terkenal sejak membawakan acara televisi “Perspektif” beberapa tahun ke belakang ini ternyata aktif menulis. Tulisan-tulisannya tersebar di media massa, baik nasional maupun internasional. Sebutlah The Jakarta Post, Seputar Indonesia, Kompas, Kontan, majalah Area, Djakarta, BusinessWeek Indonesia dan banyak lainnya di dalam negeri. Untuk media internasional, dia pernah menulis untuk antara lain Time, Newsweek, The Sydney Morning Herald, The International Herald Tribune, The New York Times, Wall Street Journal, The Washington Post, The Straits Times, The Australian Financial Review, juga The Guardian dari Inggris. Semua pekerjaannya bermuara pada ilmu komunikasi, yang didapatnya dari pengalaman hidup bergaul dengan siapa saja, di mana saja dan kapan saja, dan tidak dari pendidikan formal.
Kepiawaiannya dalam bidang ini sangat diakui sehingga Deakin University di Australia menganugerahkannya Adjunct Professor in Journalism and Public Relations. Penghargaan yang sangat pantas, apalagi dirinya pernah menjadi juru bicara (jubir) Presiden Republik Indonesia (RI) ke-empat, KH. Abdurrahman Wahid, tokoh yang sangat dikaguminya.
Mengapa Wimar sampai kagum pada seorang Gus Dur? Karena Gus Dur sangat kreatif, independen dan teguh dalam prinsipnya, menurutnya.
“Apalagi, Presiden RI ke-empat tersebut juga sangat lucu, sangat banyak tahu dan merupakan teman mengobrol yang mengasyikkan,” tambahnya.
“Gus Dur bisa berbicara mengenai segala hal, dari mulai dari sejarah Mesir sampai musik Klasik. Bisa cerita mengenai Irak dan juga policy-nya Bush, dan piawai menerangkan Islam dan demokrasi, juga selalu tertawa dan tidak pernah merasa lebih.”
“Beliau itu istilahnya The Renaissance Man. Beliau sudah menemukan segala dalam hidupnya, dan ingin share dengan yang lain. Beliau orang yang saya kagum,” ungkap pria yang dulu suka bermain bola dan tenis ini.
Puncak Karir
Banyak yang mengatakan bahwa puncak karir Wimar adalah saat dirinya diangkat menjadi jubir Presiden RI ke-empat, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
“Itu puncak karir saya, saya pikir waktu itu. Tapi ternyata tidak. Sekarang lebih tinggi lagi saya kira, karena saya tidak menjadi jubir seseorang, tetapi menjadi jubir yang perlu dijubiri,” katanya.
Pengangkatan pehobi renang ini sebagai jubir Gus Dur waktu itu merupakan suatu kehormatan baginya, menurut Wimar, orang yang belum pernah masuk pemerintahan, belum pernah masuk partai politik, belum pernah menginjakkan kaki di Istana Negara. Ia bahkan jubir yang sangat aktif, yaitu kepala Tim Juru Bicara, dan berada di samping Presiden pada setiap kesempatan. Dirinya kerap bertemu dengan pimpinan dalam negeri dan kepala negara luar negeri untuk menyampaikan pikiran presiden.
“Waktu ditawarkan [posisi itu], saya hampir tidak percaya karena banyak orang yang lebih qualified. Tapi memang Presiden Wahid merasa saya mengerti jalan pikir beliau, dan memang begitu. Saya menjadi jubir tanpa harus diberikan instruksi,” jelasnya.
Wimar Saat Ini
Boleh jadi perusahaan PR-nya, InterMatrix, besar karena kebesaran seorang Wimar Witoelar. Akan tetapi hal itu tidak menjadikan dirinya menerima begitu saja permintaan orang atau lembaga untuk diwakili.
“Pernah dahulu sebelum tahun 2000, ada seorang pengusaha, yang saya tahu track record-nya tidak baik, meminta saya untuk mengadakan press conference dengan bayaran Rp 10 miliar! Tentu jumlah yang fantastis saat itu. Akan tetapi karena saya tahu latar belakangnya, saya tidak mau,” tegasnya.
Tidak ada pengalaman hidup yang disesalinya sampai saat ini. Itu juga yang mendorongnya untuk menulis No Regrets, yang juga dijadikan moto hidupnya. Selain itu, Wimar adalah sosok yang selalu berusaha menyenangkan orang lain. Ia, misalnya, tidak ingin para karyawannya terlambat menerima gaji atau dimarahi. Menurutnya, membantu orang itu mengasyikkan.
“There’s always something in which you can be useful,” katanya.
“Hidup itu menyenangkan, dan saya ingin menikmati hidup sekaligus berguna bagi orang lain. Kalau orang butuh sesuatu lalu kita bisa memenuhinya dan dia menyambut apa yang kita berikan, itu menyenangkan sekali. Meskipun tidak melulu harus berupa materi.”
Garuda Indonesia di Mata Seorang Wimar
“Saya suka melayani orang dan saya senang membuat orang senang. Saya juga suka traveling. Menurut saya, pengalaman edukatif terbesar adalah bepergian ke mana-mana,” kata Wimar. Dia juga mengatakan pernah menjadi konsultan Garuda Indonesia sehingga dirinya tahu sedikit banyak tentang BUMN di sektor penerbangan ini. Meskipun pernah didera masalah, baik internal maupun eksternal—dan semua perusahaan pasti pernah punya masalah—lambat laun Garuda Indonesia telah menjadi airline yang lebih bagus, katantya. Menurutnya, ketika memasuki pesawat Garuda Indonesia dari luar negeri dengan tujuan Indonesia, dirinya sudah merasa ada di rumah karena suasananya yang sangat ramah dan menyenangkan.
Traveling itu sangat penting, katanya.
“Barangkali tema Garuda yang bisa digalakkan, baik dalam majalah maupun dalam program dan PR-nya, adalah menjadikan penerbangan sebagai bagian dari sebuah life experience,” sarannya. “Mencerdaskan bangsa Indonesia itu lebih cepat melalui traveling daripada melalui sekolah konvensional. Ada yang keliru bila kita sediakan bangku sekolah bagi anak murid yang cerdas tetapi kita tidak mampu memberikannya kesempatan untuk melihat dan mengenal Nusantara, bahkan dunia.”