Bung Karno, Presiden RI pertama, konon pernah mengatakan bahwa Jogjakarta adalah Ibukota Seni Rupa Indonesia. Jika Anda datang ke Jogjakarta pada Desember, ungkapan ini bukan sekadar isapan jempol tetapi memang sebuah kenyataan yang tak terbantahkan.
Biennale Jogja X-2009 (11 Desember 2009-10 Januari 2010) merupakan momen yang membuktikan kredo tersebut. Sekitar 138 perupa akan memamerkan karyanya di empat venue, yakni Taman Budaya Yogyakarta, Jogja National Museum, Gedung Bank Indonesia, dan Sangkring Art Space. Para pencinta seni pasti akan dimanjakan matanya saat melihat ratusan karya berupa lukisan, patung, instalasi, performance.
Perupa Indonesia yang telah malang-melintang di dunia seni rupa internasional seperti Heri Dono, Dadang Kristanto, Arahmaiani, Nindityo Adi Purnomo secara khusus memamerkan karya terbarunya untuk Biennale Jogja X. Tema “Jogja Jamming: Gerakan Arsip Seni Rupa Jogja” memang merupakan sebuah interpretasi para perupa Jogjakarta dari berbagai generasi terhadap semangat zaman yang lahir di setiap dekade dari 1940an hingga yang terkini. Tidak heran jika perupa yang telah berkarir selama puluhan tahun hingga perupa muda akan tampil di panggung biennale ini. Kelompok Gerakan Kepribadian Apa (PIPA) yang fenomenal di era 1970an secara khusus akan berkumpul kembali untuk membuat karya bersama.
Presentasi mereka ini sangat penting untuk merefleksikan kembali semangat gerakan seni rupa di Jogjakarta yang selalu muncul di setiap dekade. Perupa muda Abdul Syukur akan menggelar karya instalasi yang menarik dengan bahan batik. Secara khusus ia bekerja sama dengan para perajin batik di Imogiri untuk membuat karya tersebut. Biennale Jogja X juga memberikan tempat khusus untuk karya grafis; Agung Hanafi akan membuat karya cukil kayu (grafis) yang dicetak pada kanvas ukuran dua meter. Perupa perempuan, Theresia Agustina Sitompul, membuat karya sangat unik: merancang busana untuk tukang parkir. Kelak busananya akan dikenakan oleh tukang parkir di wilayah tertentu, dan beberapa peragawati dan peragawan akan berlenggak-lenggok memperagakan busana tersebut.
Sebaran karya para perupa tidak hanya di ruang-ruang pameran, tetapi juga merambah ke sudut-sudut kota Jogjakarta. Melalui sesi “Public On The Move,” sekitar 200 seniman akan merespons dan menyulap kota gudeg ini. Pihak Pemerintah Provinsi DIY sangat mendukung dengan mengizinkan para seniman untuk merespons fasilitas kota, termasuk penggunaan baliho tanpa dipungut biaya pajak apa pun. Di ruang-ruang Kota Jogjakarta, mungkin Anda akan terkejut ketika melihat sebuah patung kuda yang terbuat dari limbah kayu menimbulkan efek gerak. Itulah karya Komrodin Haru, pematung kelahiran Palembang yang secara khusus bereksperimen dengan limbah kayu. Karya patung Albara berukuran raksasa dengan wajah-wajah mantan pemimpin bangsa ini akan diletakkan di jantung kota dan siap mengejutkan publik.
Sementara asyik melihat karya-karya patung, mungkin saja Anda akan bertemu dengan patung berwujud Obama yang berkeliling mengendarai becak ke seantero kota. Inilah karya Wilman Syahnur, yang secara khusus menyampaikan keprihatinannya atas Obama yang telah menerima Hadiah Nnobel untuk perdamaian namun tetap mengirimkan tentaranya ke medan perang. Para perupa yang tergabung dalam Kelompok Sringgit akan merespons jalan di depan balai kota dengan mural menarik. Belum lagi warga kampung Jogja, yang akan menggarap mural di atas trotoar sehingga saat melangkah para pejalan kaki dapat menikmati karya seni. Untuk memaknai seluruh perhelatan ini, akan digelar pula diskusi, artist’s talk, dan workshop. Intinya, wajah Kota Jogjakarta akan berubah selama satu bulan kedepan.
Nikmatilah karya seni, sekaligus belajar mengenai sejarah seni rupa Jogjakarta yang telah menjadi nafas utama bagi perkembangan seni rupa di Indonesia dan Asia Tenggara.
‑Tim Media Biennale Jogja X-2009