Nama Prof. Sardono Waluyo Kusumo (lahir di Surakarta, 6 Maret, 1945)
mendapat tempat khusus dalam dunia seni tari kontemporer Indonesia
dan perkembangannya. Sepanjang karirnya ia pernah dikukuhkan menjadi
seniman pertama dari Asia yang mendapat penghargaan "Distinguished
Artist Award" dari International Society for the Performing Arts
Foundation (ISPA) bersama Ong Keng Sen, seniman asal Singapura, ketika
masyarakat seni pertunjukan internasional itu menyelenggarakan kongres
di Singapura pada 20 Juni 2003.
ISPA, sebuah forum yang berpusat di New York, didirikan pada 1949 untuk mempromosikan nilai dan peran penting seni pertunjukan di dalam kehidupan. Ini merupakan satu di antara sekian lembaga mancanegara dalam bidang kebudayaan yang bergengsi.
Di dalam negeri, apresiasi tinggi terhadap hidup berkeseniannya adalah gelar profesor dan didaulatnya ia menjadi rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada 2003 untuk periode yang berakhir pada Januari tahun ini.
Apa yang membesarkan Mas Don – seperti ia biasa disapa – dari kepekaannya yang tinggi dalam melihat, merasakan dan mengungkapkan sesuatu melalui tariannya? Dengan cara yang sederhana namun bermakna, ia selama ini telah menciptakan karya-karya spektakuler yang mendapat pengakuan dari dunia internasional, seperti "Samgita Pancasona" (diciptakan ketika ia berusia 23 tahun), "Cak Tarian Rina", "Dongeng Dari Dirah", "Hutan Plastik", "Opera Diponegoro" dan "Nobody's Body" .
Selain menjadi guru tari, Mas Don juga aktif dalam kegiatan sosial dan lingkungan. Kendati kesibukannya yang padat, seperti perjalanannya ke luar negeri yang intensif, ia menyempatkan diri berbicara dengan Garuda Magazine.
Apa sebenarnya arti tari bagi Mas Don?
Begitu banyak artinya sehingga susah untuk dibilang. Dari kecil hingga
tua, saya begini terus, yaitu menari. Ya, itu satu kebutuhan hidup
juga.
Dalam tari Mas Don mendapatkan banyak hal. Kira-kira apa saja?
Seringkali tidak mendapatkan apa-apa kecuali keinginan menari. Apa
yang saya rasakan itu yang saya ungkapkan melalui tarian. Saya tidak
bisa merumuskannya. Mungkin kalau saya bisa merumuskan saya sudah
tidak menari lagi. Pokoknya, saya menari, membikin tarian dan melihat
tarian.
Bagaimana menjalani hidup dengan tarian?
Menari adalah satu bagian saja dari perjalanan hidup. Dalam hidup saya,
jadi rektor, jadi dosen, aktif di masyarakat, di lingkungan, di forum
dewan professor sekolah seni…segalanya. Menari menjadi bagian
dari keseluruhan kehidupan itu juga.
Di antara seni-seni lain, di mana posisi seni tari?
Tidak bisa dipisahkan, paling tidak dalam diri saya sendiri. Saya menari
tapi juga melukis dan membikin film. Saya menikmati semuanya. Saya
senang menikmati konser musik, dan saya membikin film dan melukis
sampai sekarang. Waktu kecil, ketika saya menari Jawa saya harus
hafal lakon Ramayana dan Mahabarata. Jadi saya harus tahu sastra,
hafal gamelan, kostum seperti jenis batik apa yang harus dipakai
untuk disesuaikan dengan karakter. Jadi seni itu saling menjalin,
segala macam itu harus dipelajari.
Karya terakhir Mas Don?
Yang paling akhir adalah yang saya bikin dengan mahasiswa-mahasiswa
tari di Minnesota, Mineapolis. Ini dipentaskan pada Februari, Maret
dan November ini. Saya mengajar mahasiswa tersebut selama enam minggu
dan hasilnya adalah sebuah koreografi yang dipentaskan.
Jumlah penari kira-kira 12-14, dan judulnya terkait dengan musim rontok.
Semua mahasiswa Amerika. Saya bikin ketika mengajar di sana pada musim
gugur. Temanya mengenai daun-daun yang berguguran dan pergantian musim
yang tidak menimbulkan kematian tapi justru menghasilkan banyak sekali
warna.
Jadi, di sekolah itu ada akademi yang lobinya kosong. Di tengah ada tangga yang tinggi. Setiap hari mahasiswa itu naik-turun. Saya minta mereka naik tangga dan ketika turun saya minta jangan pakai kaki tetapi dengan seluruh tubuhnya. Jadi mereka mengguling-guling. Karena mereka penari, detailnya terlihat sekali. Ada punggungnya dulu, kemudian kaki dan baru kepalanya. Jadi seperti badan yang meleleh-leleh. Dan efeknya, karena saya minta mereka pelan-pelan, seperti patung yang berubah-ubah.
Pertunjukan di tangga itu akan dipentaskan di semacam festival sekolah
seni di Amerika itu.
Dan pada Juni ini saya bikin yang lain lagi. Saya menggarap kembali "Opera
Diponegoro" dari 13 tahun lalu namun kali ini dengan jumlah pemain
yang lebih sedikit dan adegan-adegan yang sangat intens.
Akan dipentaskan di mana?
Di New York. Jadi pada Juni ini ada dua pementasan saya di New York,
yang pertama adalah "Opera Diponegoro" tadi dan kedua "Nobody's
Body".
Seniman tarinya dari mana?
Dari Indonesia semua, kira-kira 10 penari. Itu dipentaskan dalam satu
festival seni dari berbagai negara.
Kenapa dipentaskan kembali? Apakah ada pembaruan-pembaruan?
Ya, kalau saya pentaskan lagi, itu berarti ada konteks baru.
Bagaimana dengan "Nobody's Body"?
Konteksnya banyak sekali. Sekarang 'kan banyak migrant workers,
pengungsi yang naik perahu terapung-apung dan tidak punya tempat singgah.
Segala macam yang bertema tentang keterasingan, tentang orang yang
diasingkan dan yang harus survive, itulah yang saya angkat. Untuk hidup
mereka harus meninggalkan segalanya. Jadi tubuhnya tidak lagi milik
siapa pun, bahkan tidak milik dirinya sendiri.
Antara mengajar dan menari?
Berbeda sekali. Menari 'kan mengekspresikan diri sendiri. Kalau
mengajar 'kan mendidik, memfasilitasi dan membantu orang menumbuhkan
dan memperkaya cita rasa seni budaya dirinya.
Yang diharapkan dari para penerus?
Saya mengharapkan generasi berikut menjadi diri mereka sendiri. Karena
pengertian mendidik itu 'kan menumbuhkan kreatifitas dari pribadi
masing-masing. Jadi saya tidak mengharapkan mereka menjadi penerus
saya tapi jadi diri mereka sendiri.
Bagaimana dengan penari baru sekarang ini? Apakah mereka telah menjadi
diri mereka sendiri?
Ya, makanya banyak variasi tarian dan gaya. Solo berbeda dengan Jogja,
yang kemudian beda lagi dengan Minang. Dan setiap pribadi menumbuhkan
personalitasnya masing-masing. Menarik.
Banyaknya pribadi-pribadi yang kreatif 'kan bisa dilihat dari
banyaknya festival di Indonesia seperti di Goethe Institute, Erasmus
Huis dan sekarang Salihara. Pertumbuhannya membesarkan hati dan wajar
karena masyarakatnya dinamis.
Apresiasi internasional terhadap seni tari Indonesia?
Sekarang 'kan semua semakin terbuka, tidak hanya Jakarta. Dengan
adanya otonomi daerah banyak dana [yang beredar]. Kini Padang, Jambi,
Riau dan Palembang lebih dekat ke Singapura dan Thailand, jadi terbuka
sekali bagi mereka untuk tampil di sana. Malahan, mungkin banyak yang
berpentas di luar negeri dari pada di dalam negeri. Nah, itu namanya
dinamika pertumbuhan. Banyaknya penerbangan dan bandara internasional
memungkinkan komunikasi internasional lebih intensif.